Menghidupkan Semangat Dasasila Bandung : Kedaulatan Indonesia di Tengah Pusaran Board of Peace

sumber gambar : pexels.com

Dalam kancah geopolitik Indonesia hari ini berdiri di persimpangan jalan. Upaya diplomasi Pemerintah Indonesia memengaruhi kebijakan dalam _Board of Peace_ (BoP) untuk berkonstribusi mewujudkan perdamaian dan rekonstruksi Gaza Pascakonflik menghadapi tantangan ‘kontradiktif’ yang nyata.

_Board of Peace_ (BoP) atau Dewan Perdamaian adalah badan internasional independen yang dibentuk pada Januari 2026 atas inisiasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dewan yang diketuai “seumur hidup” oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump ini merupakan forum negosiasi dalam mengawal transisi, stabilisasi, dan rekonstruksi Gaza pascakonflik. Anggota BoP terdiri dari 26 anggota termasuk negara-negara Arab, Israel, dan Indonesia. BoP bukan dewan yang berada dalam struktur organisasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). (cnnindonesia.com).

Athiqah Nur Alami, Kepala Pusat Riset Politik (PRP) BRIN, menjelaskan “Pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya apakah BOP dapat berjalan, tetapi siapa yang menentukan arah perdamaian, untuk kepentingan siapa, dan melalui mekanisme akuntabilitas seperti apa,” (brin.go.id).

Hari ini dunia menyaksikan kontradiksi yang ‘menyakitkan’ saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Israel yang notabene Ketua dan Anggota Board of Peace (BoP), justru melakukan eskalasi militer “perang” terhadap Iran. Perang ini mengubah persepsi publik terhadap "Dewan Perdamaian" (_Board of Peace_) menjadi "Dewan Perang" (_Board of War_) dan semakin memicu desakan internal agar Indonesia segera menarik diri demi menyelamatkan martabat diplomasi.

Dalam teori Realisme Neoklasik, efektivitas diplomasi sebuah negara sangat bergantung pada kapabilitas materiil dan posisi tawar strategis (Amarca, 2024). Tanpa kekuatan tawar yang dominan, patut dipertanyakan : Apakah Indonesia sedang mengendalikan arah angin, atau justru terjebak sebagai "daun" dalam pusaran ‘angin’ kepentingan kekuatan besar (great powers) ?

Merespon tekanan untuk keluar dari BoP yang semakin menguat, Pemerintah Indonesia menyatakan komitmen Indonesia untuk tetap bertahan di BoP. Pemerintah memandang BoP merupakan satu-satunya forum negosiasi yang tersedia saat ini untuk menangani konflik di Gaza. Namun demikian, Pemerintah menyakinkan masyarakat bahwa posisi keanggotaan Indonesia bersifat situasional. Pemerintah menyatakan kesiapannya untuk menarik diri, apabila BoP terbukti tidak lagi memberikan manfaat nyata bagi Palestina dan tidak sesuai dengan kepentingan nasional Indonesia. (Sindonews, 2026).

Bangsa Indonesia perlu merenungi kembali semangat Dasasila Bandung. Di era Perang Dingin, saat negara-negara baru merdeka diseret paksa untuk memihak Blok Barat atau Timur, Bung Karno tidak duduk diam menunggu undangan forum internasional yang mau mendengar suaranya.

Dengan kapasitas diplomasi-nya saat itu, Bung Karno menciptakan panggungnya sendiri melalui Konferensi Asia Afrika 1955. Presiden Pertama Indonesia ini menawarkan The 3rd Way melalui Dasasila Bandung yang menjadi bukti otonomi kebijakan luar negeri adalah tentang keberanian menciptakan agenda, bukan sekadar mengikuti agenda struktur kekuasaan global.

Meskipun dinamika zaman telah bergeser, korelasi antara semangat Dasasila Bandung dan desakan agar Indonesia keluar dari BoP berpijak pada satu esensi perjuangan yang tidak pernah berubah, yaitu menegakkan kedaulatan negara dalam mengimplementasikan politik luar negeri bebas-aktif guna mewujudkan perdamaian dunia, sembari secara kritis dan elegan merespon dominasi kekuatan hegemonik dalam sistem internasional.

Mengambil ibrah dari Dasasila Bandung, Indonesia tidak boleh terjebak dalam diplomasi 'stempel' di BoP. Jika forum tersebut terbukti hanya menjadi alat sandiwara kekuatan global, “janji” Presiden untuk menarik diri adalah harga mati demi martabat bangsa.

Fokus diplomasi harus dikembalikan pada optimalisasi instrumen PBB secara agresif, sebagai jalan keluar yang lebih inklusif dan berdaulat dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina.

Salam

Abu Kamila Alfatih (2026)

Comments